“Mudo Bengkulu Kito” sebagai Wadah Pemuda Bengkulu untuk Siap Menghadapi Bonus Demografi

Oleh Dwi Fauziyah Putri (UI 2012)

 

Dewasa ini, bonus demografi dapat dikatakan sebagai salah satu fenomena kependudukan yang menarik. Indonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi pada kisaran tahun 2020-2030. Perlu diketahui bahwa bonus demografi merupakan suatu fenomena ketika penduduk dengan jumlah usia produktif jauh lebih banyak dibandingkan dengan usia non produktif. Usia produktif yang dimaksud berkisar antara 15-64 tahun. Jika ditelisik lebih jauh, rentang usia tersebut juga beririsan dengan usia para pemuda. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 memuat bahwa pemuda ialah Warga Negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) hingga 30 (tiga puluh) tahun.

Lalu apakah kaitan antara pemuda dengan bonus demografi? Pemuda merupakan nafas zaman dan tumpuan masa depan bangsa. Pemuda memiliki sejumlah potensi yang luar biasa, misalnya usia yang masih produktif, progresif, pantang menyerah dan penuh inisiatif. Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 menjadi bukti strategisnya posisi pemuda dalam perubahan bangsa, namun pemuda dengan segala kelebihan yang dimiliki tetap membutuhkan persiapan sebagai bagian pembinaan dan pengembangan dirinya. Jika pemuda siap menghadapi bonus demografi, akan sangat memungkinkan bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain di bidang sains, ketersediaan infrastruktur, ekonomi, energi dan teknologi informasi komunikasi. Sebaliknya, jika pemuda tidak siap menghadapi bonus demografi, maka hanya akan ada sebuah penyesalan. Pemuda yang tidak siap menghadapi bonus demografi hanya akan menjadi beban bagi negara, misalnya sejumlah pemuda berstatus pengangguran. Oleh karena itu, kesiapan pemuda akan menjadi faktor penentu keberhasilan dalam memanfaatkan bonus demografi.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 memuat bahwa pemuda merupakan individu yang sedang memasuki periode tumbuh dan berkembang, namun kedua hal tersebut cukup sulit bagi pemuda daerah. Kesenjangan dalam berbagai aspek pembangunan antara ibukota dan daerah menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh pemuda daerah. Menurut Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dan Transmigrasi, Marwan Jafar, kesenjangan pembangunan terlihat jelas dari ketersediaan infrastruktur ekonomi, energi dan teknologi informasi komunikasi antara Kawasan Barat Indonesia  (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Persebaran daerah tertinggal di Kawasan Timur Indonesia mencapai 84,43%, sementara sebanyak 15,57 persen berada di Kawasan Barat Indonesia (Jafar, 2015). Lebih lanjut tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan dan ketersediaan infrastruktur di Kawasan Indonesia Barat masih terpusat di Pulau Jawa.

Menurut saya, Mudo Bengkulu Kito sangat menyadari jurang pemisah yang muncul akibat kesenjangan dalam pembangunan dan ketersediaan infrastruktur teknologi informasi komunikasi di daerah, khususnya di Provinsi Bengkulu. Jurang pemisah tersebut kita kenal sebagai informasi dan inspirasi. Sejatinya, hal pertama yang dibutuhkan pemuda daerah ialah pengetahuan dan informasi yang membuka cakrawala agar terus berkembang. Hal kedua yang dibutuhkan ialah akses informasi dari-kepada sosok inspiratif yang mengispirasi pemuda daerah.  Jika kedua hal tersebut sudah dipenuhi, maka intervensi positif yang lebih lanjut akan berjalan lebih mudah. Mudo Bengkulu Kito merupakan wadah yang tepat bagi pemuda Bengkulu untuk saling berkreasi, saling menginspirasi dan berkolaborasi. Pemerintah memang berperan penting dalam bonus demografi. Jika diibaratkan dengan sebuah film, pemerintah berperan sebagai pemeran utamanya, namun pemuda daerah tidak lantas menjadi figuran semata.  Harapan saya, Mudo Bengkulu Kito dapat memberikan intervensi positif sehingga persiapan pemuda Bengkulu dalam menghadapi bonus demografi akan semakin baik lagi.

 

 

Daftar Pustaka

Jafar, Marwan. 2015. Ini Jurus Menteri Marwan Kurangi Kesenjangan Antar Wilayah di Indonesia. http://www.kemendesa.go.id/berita/1724/ini-jurusmenteri-marwan-kurangi-kesenjangan-antar-wilayah-di-indonesia Diakses pada 27 Desember 2015 pukul 22.00 WIB

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s