Cerita Putih Biru

Oleh : Bayu Sadewa Febriantono (UII 2012)

 

It was almost eight years ago. Kadang kala, saya bosan dengan organisasi. Sibuk, lupa waktu, dan pulang malam. Ya, saya mengikuti organisasi sejak kelas 7 SMP. Dipikiran saya kala itu adalah mendapati teman yang banyak dan bisa akrab dengan para guru. Saya mendaftar mengikuti OSIS melalui jalur seleksi tertulis, yang ditujukan untuk posisi bendahara umum (bendum). Yang saya tidak habis pikir, anak yang baru lulus SD berani-beraninya mendaftar posisi bendahara yang saat itu seluruh registernyaadalah siswa kelas 8. Menariknya, saat pengumuman penerimaan, skor yang saya raih adalah 100 atau dengan kata lain sempurna. Dengan demikian, saya berhak mendapat posisi bendahara umum. Jika di ingat-ingat, padahal saya menjawab soal tertulis yang diberi dengan kemampuan sebagai anak SD, berbeda dengan yang lain dimana sudah menjadi siswa SMP selama 1 tahun. Sempat dikira oleh orang-orang yang mendaftar saat itu saya adalah penerima NIM (Nilai Ujian UN Kumulatif) tertinggi, padahal saat mendaftar SMP, NIM saya berada diurutan ke 13. Begitu dugaan positif yang tidak mengenakan, karena saat itu peraih nim tertinggi juga mendaftar OSIS. Sesuai keinginan saya saat mendaftar, teman yang saya kenal pun kian banyak, bukan dari kalangan kelas 1 SMP atau yang setara, melainkan kakak tingkat atau yang lebih senior. Saya juga merasa senang karena keinginan saya untuk akrab dengan para guru tercapai melalui kegiatan OSIS yang diadakan. Tidak berhenti disitu, saat kelas 8, posisi saya di OSIS naik menjadi Wakil Ketua OSIS 1 yang membidangi 4 departemen, sungguh pengalaman yang luar biasa kala itu, meski nilai akademik saya jatuh lantaran time management saya yang buruk. Tapi saya banyak belajar dari organisasi yang saya ikuti saat SMP itu, mulai dari  berbicara didepan orang banyak dan membuat proposal dana. Pelajaran yang tidak saya dapati di kelas, yang pada saat itu tahun 2007 adalah masa dimana anak-anak SMP masih semangat-semangatnya fokus meraih peringkat kelas yang bagus, tidak seperti sekarang siswa SMP sudah diberikan pendidikan softskill. Melalui OSIS SMP, saya dan teman-teman pernah menawarkan proposal dana dan beraudiensi langsung dengan Ketua DPRD kabupaten saya kala itu. Hasilnya kami mendapat bantuan dana 200.000, jumlah uang yang menurut saya besar pada saat itu. Bangga namun tidak jumawa, perasaan yang saya beserta teman-teman OSIS rasakan. Pengalaman berbicara didepan pejabat sudah kami dapati sejak masa SMP. Puncaknya saat menjadi Wakil Ketua OSIS 1, saya beserta pofi (Wakil Ketua OSIS II) dan Oki (Ketua OSIS) berhasil meyakinkan Bupati Kabupaten kami untuk memberikan bantuan dana sebesar 10 juta. Gila! Salut terutama kepada pofi, teman seorganisasi, yang saya banyak belajar cara berbicara didepan orang kepadanya. Ia menjadi narahubung antara Kepala Sekolah dengan Bupati, didampingi saya dan Oki. Meskipun SMP, tapi saya rasa pengalaman seperti itu memang harusnya dirasakan oleh siswa sekarang untuk pembelajaran softskill mereka.

And there is always a rainbow after the rain,  rasa bosan saya ketika itu terbayar. Saya sibuk tapi banyak hal bermanfaat yang bisa terus saya pelajari, saya lupa waktu tapi ternyata waktu yang saya lupakan adalah waktu yang sia-sia dan memang tidak perlu untuk kita pikirkan, saya pulang malam tapi ada hikmah dan pengetahuan yang saya dapati disetiap obrolan yang saya lontarkan dengan siapapun itu hingga malam hari. Secara tidak sadar, pengalaman organisasi ketika berseragam putih biru, mendidik saya untuk menjadi terus bermanfaat. Akrab dengan para guru, mempunyai banyak teman, dan memiliki kualitas berbicara yang baik adalah hal yang tidak saya sadari ketika dulu, tapi sekarang. Nikmat ketika berkunjung ke sekolah, guru mengenal kita melalui kegiatan yang sering kita lakukan, nikmat ketika banyak teman yang bisa diajak untuk saling mengenal, dan nikmat berani berbicara di depan orang, siapapun itu. Saya jadi teringat, ketika dalam suatu sesi diskusi dengan Alvin Adam (Host Just Alvin), beliau mengatakan bahwa public speaking adalah tonggak terujungfirst impression orang terhadap kita. Confirmed! Hal tersebut saya rasakan ketika berbicara dan berhasil meraih perhatian  Ketua DPRD dan Bupati tadi, seperti yang saya ceritakan.

Saya pikir bahwa, saat siswa putih-biru pun sudah seharusnya membiasakan diri untuk terlibat aktif di organisasi. Karakter berani dan aktif berbicara dengan lingkungan sosial, minimal hal seperti itu sudah mulai dibangun. Siswa putih-biru era sekarang memang berani dan aktif berbicara, tapi berbeda. Berani dan aktif berbicaranya hanya tersalurkan melalui media sosial, bukan secara langsung face to face . Justru hal tersebut mendekatkan kita pada lingkungan yang anti sosial dalam artian yang denotatif.

Ohya,  jangan takut bahwa organisasi akan mengganggu akademik kita. Toh, sekarang adalah jamannya anak muda yang berprestasi, namun juga aktif berorganisasi. Bagi teman-teman yang membaca tulisan ini, percayalah apapun kegiatan positif yang kita lakukan di masa lalu, selalu ada manfaat yang akan dirasakan di masa datang. Salam sukses!

Advertisements

One thought on “Cerita Putih Biru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s