Anak Malang yang Menyusui Orang Tuanya

Oleh: Sutrisno Wijayadiningrat

 

Mungkin tak hanya sebutan malang saja yang bisa diberi untuk seorang anak yang biasa selalu terlihat dikeramaian massa ini. Lebih dari kata malang mungkin bisa menggambarkan betapa kasihannya hidup seorang anak yang menderita hidrosefalus ini tampak sedang meminta belas kasih dengan menerima recehan dari orang-orang yang berlalu-lalang. Tanpa dibayangkan saja sungguh sudah begitu ironisnya beban mental dan beban fisik yang diderita anak malang ini.

Ia kerap terlihat di sela-sela lorong pintu masuk antara PTM dan Mega Mall Bengkulu, duduk setengah tidur diatas kursi roda usang dan disiapkan ember sebagai wadah menampung uang pemberian orang-orang yang lewat didepannya. Tak tahu apa yang dipikirkan kedua orangtuanya sampai hati menjual dan mempertontonkan kelainan fisik sang buah hati kepada orang banyak hanya demi sekedar materi belaka.

Dibilang bisu tidak, dibilang gagap juga tidak, lantas gerangan apa yang membuat anak ini selalu diam tanpa perlawanan diperlakukan seperti itu oleh orangtuanya? Apakah sebuah tindak kekerasan yang mengancam anak ini untuk terus menutup mulut dan membiarkan sebegitu seenaknya sang orangtua memperlakukannya?

Kemudian sosok orangtua seperti apakah mereka yang rela mengobral kekurangan dari buah hatinya yang seusianya seharusnya bermain dan bercanda dengan teman-temannya? Mungkin penyebab dari perlakuan didasari rasa malu orangtua karena menilai apa yang dialami buah hatinya merupakan aib.

Seharusnya orangtua merasa prihatin terhadap buah hatinya yang berkebutuhan khusus tersebut, tak lantas orangtua berperilaku deskriminatif dan tidak manusiawi mengetahui buah hatinya berbeda dari anak-anak yang lain pada umumnya. Jika kita juga berkebutuhan khusus dalam segi ekonomi, seharusnya kita tetap memegang prinsip tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.

Ini cermin lebar juga untuk kita resapi makna dan filosofinya, anak adalah buah hati. Seperti apa buah hati kita itu tetap titipan dari Yang Maha Esa. Anak adalah sebuah anugrah yang bahkan hukum di negara kita pun turut melindunginya. Jadi jangan sampai menjadi orangtua yang durhaka terhadap anaknya bahkan menjual kekurangannya lalu minta disusui olehnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s